Thursday, September 29, 2016

Agus Harimurti Yudhoyono, Apa yang Bapak Cari ?


Penunjukkan AHY sebagai cagub DKI 2017 memang sungguh diluar perkiraan banyak orang, walaupun sayup-sayup dulu pernah terdengar, tapi seiring perjalan waktu sepertinya hilang ditelan waktu. Namun secara tiba-tiba pada ‘last minute’ nama ini muncul kemballi tanpa perdebatan panjang dan berliku. Hal ini bisa terjadi krn memang dari koalisi kekeluargaan yang merapat ke Cikeas tidak mempuyai nama kader maupun non kader yang dapat diusung yang dapat diterima secara suara bulat oleh semua partai tersebut ataupun yang diperkirakan dapat menang melawan Ahok.

Cukup menarik  bahwa AHY yang sedang dinas diluar negeri akhirnya dipilih secara bulat oleh poros Cikeas. Tidak diketahui secara pasti juga apakah memang itu usulan bersama dari sisa koalisi atau bisikan para sengkuni kepada SBY yang akhirnya menawarkan opsi ini karena melihat poros Cikeas sampai larut malam belum mencapai kata sepakat  siapa yang harus dicalonkan.

Apakah AHY orang yang tepat sebagai ‘komandan’ DKI-1 ? jika ditelisik lebih jauh kemampuan beliau selama ini di dunia militer maupun akademis rasanya tidak ada yang akan meragukannya. Pertanyaannya apakah AHY yang ditempa di dunia militer selama hampir 15 tahun dapat menyesuaikan atau beradaptasi dengan dunia birokrasi yang penuh intrik dimana situasi di lapangan benar-benar 180 derajat perbedaannya.

Dalam militer, semuanya berjalan sesuai dengan rantai komando, tidak akan mungkin / sangat kecil kemungkinan komunikasi secara rantai komando ini dilakukan dengan gaya komunikasi dunia kerja pada umumnya. Artinya apabila ada perintah dari komandan, maka perintah tersebut akan dilaksanakan sampai ke level paling bawah tanpa ada yang berani membantah.

Sedangkan di dunia birokrasi bisa terjadi tidak semua perintah atasan dilaksanakan karena jika menyangkut kepetingan beberapa oknum maka akan ada perlawawan dari jajaran birokrasi, kalaupun dikerjakan tidak dengan sepenuh hati sehingga hasilnyapun tidak akan sesuai harapan. Itu baru dari sisi internal, bagaimana dengan pihak lainnya ?

Melihat sepak terjang gubernur petahana saat ini, terlihat betapa rumitnya persoalan yang dihadapi untuk diurai satu persatu, mulai dari ngurusin warga , pemerintah pusat bahkan sampai anggota DPRD dan lapisan lain yang punya kepentingan. Semua kejar mengejar dengan waktu yang kadang kala harus diambil putusan yang cepat. Tidak jarang Ahok harus sampai memimpin rapat teknis yang seharusnya dapat dikerjakan oleh jajaran pejabat teras, tapi apa hendak dikata ternyata untuk masalah inipun Ahok ‘terpaksa’ harus turun tangan. Beruntung Ahok punya bekal pengetahuan dan pengalaman merambah beberapa posisi terkait dengan tugas saat ini, sehingga dalam memahami kasus maupun penyelesaian’nya bukan merupakan hal yang terlalu sulit.

Bukan untuk menakuti-nakuti, pertanyaan'nya adalah apakah AHY dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru’nya jika nanti terpilih ? atau mungkin untuk urusan yang begini akan diserahkan kepada wakil’nya saja karena wakilnya berasal dari pemprov juga. Akan efektif kah ? agak sulit menjawabnya karena memang belum diketahui karakter calon wakil’nya ini. Waktu yang tersisa 4 - 5 bulan ke depan sampai dengan saat pencoblosan di bulan feb 2017 nanti merupakan ajang AHY untuk mulai belajar menyesuaikan diri. Harapan’nya sih semoga AHY dapat tampil lebih gesit dan bergerak lebih cepat dengan hasil yang lebih baik dari para pendahulunya, sehingga tidak kalah pamor dari wakil’nya kelak, jika terpilih.

Hal lain yang cukup menggelitik saya adalah, apakah kesediaan AHY menerima sebagai cagub itu memang datang dari hati nurani yang paling dalam, yang jika tidak salah dengar AHY hanya punya waktu sangat pendek untuk memutuskan bersedia maju atau tidak’nya. Apakah sudah didiskusikan secara matang dengan istri tercinta. Saya yakin sebagai perwira menengah yang cemerlang AHY pasti memiliki kemampuan untuk menganalisa situasi yang berkembang saat itu. Apa benar karir’nya di militer dengan sederet prestasi yang menonjol sudah mentok seperti yang dihembuskan beberapa pihak ? agak sulit dipercaya kalau hal itu terjadi. Yang jelas militer Indonesia merasa kehilangan generasi penerus yang telah dididik sedemikain rupa yaitu salah seorang perwira terbaik yang cemerlang dan sangat menjanjikan untuk masa mendatang.

Entah’lah kalau keputusan yang dipilih adalah karena AHY merasa sungkan kepada SBY. Sebagai perwira militer dan sebagai anak sulung rasanya saya mulai sedikit bisa mengerti, mungkin rasa”nya kurang elok mengatakan ‘tidak’ kepada Ayahanda yang menyandang status sebagai Jendral Purnawirawan dan mantan Presiden RI. Ya itu tadi dalam dunia kemiliteran yang ada jika ditanya atau diperintah maka jawaban yang keluar hanya satu kalimat ‘siap ‘ndan’.

Apakah keputusan AHY pindah jalur karir tersebut merupakan ‘panggilan hati’ untuk mengabdi kepada bangsa dan negara RI dan mungkin merasa lebih terhormat karena mengurus warga masyarakat luas ketimbang di militer karena hanya berurusan dengan dunia militer dan keamanan negara ?

Mudah-mudahan dalam waktu yang tersisa kedepan, AHY dapat mulai sedikit menjelaskan mengenai pilihan hidupnya akan berkarir di dunia birokrasi, entah itu berupa ‘kerinduan, mimpi, atau cita-cita’ yang ingin digapai atas nama pengabdian, sehingga AHY sampai rela meninggalkan dunia kemiliteran yang telah membesarkan namanya sampai diposisinya saat ini.

Jikalau apa yang AHY mimpikan untuk warga DKI itu telah ada dan merupakan cita-cita luhur dari hati yang paling dalam, disertai dengan jiwa ksatria yang telah ter-patri selama ini, tentu diharapkan akan dapat mengarungi ganas’nya belantara di DKI untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Akan tetapi jika dengan semua yang telah dikorbankan ternyata dalam perjalanan waktu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tentunya akan menjadi perenungan diri yang sangat panjang untuk menjawab secara jujur ….. ‘Apa yang sebenarnya aku cari ?’


Pilgub DKI 2017, Pestanya Partai Politik yang Punya Modal


Melihat pertarungan pilgub 2017 nanti sepertinya ini bukan saja pertarungan para calon gubernur maupun wakil gubernur, tetapi juga pertarungan pengaruh dan modal dari masing-masing partai pendukung. Khusus untuk petahana sebelum didukung PDI-P, nampaknya baik Nasdem, Hanura maupun Golkar lebih melihat gelagat bahwa secara elektabilitas, Ahok tetap unggul dibandingkan nama-nama yang muncul sebagai calon penantang. Pilihan ketiga parpol itu dengan sendirinya mendapat apresiasi dari sebagian besar warga DKI, sehingga dimata parpol untuk memenangkan Ahok tidak perlu keluar modal terlalu banyak karena secara nilai jual Ahok sudah cukup baik.


Nah ketika PDI-P merapat dan Djarot menjadi kader yang disandingkan dengan Ahok, maka disini PDIP punya kepentingan agar kader yang didukungnya bisa menang. Bisa dipastikan PDI-P akan menggerakkan semua elemen partainya untuk pemenangan Ahok-Djarot. Bisa jadi akan memanggil para punggawa-punggawa saktinya seperti Risma dan Ganjar sebagai jurkam Ahok Djarot.

Bagaimana dengan koalisi kekeluargaan ? sebelum poros Cikeas terbentuk, maka motor koalisi ini sepertinya dipimpin oleh Gerindra. Tapi walaupun namanya kekeluargaan ternyata dalam menetapkan siapa yang akan maju mendampingi Sandiaga Uno tidak semudah  seperti yang dibayangkan. Beberapa partai berusaha mengusulkan jagoan’nya masing-masing, dimana nama-nama yang diusulkan dari tiap partai tersebut sulit sekali mendapatkan persetujuan suara secara bulat. Masing-masing partai dalam kekeluargaan tersebut semuanya ingin eksis dalam mengusung calon’nya dengan maksud menunjukkan kepada warga DKI kalau mereka mempunyai kader yang dapat bersaing dengan Ahok.

Beberapa partai di koalisi kekeluargaan yang aspirasinya merasa tidak diterima oleh Gerindra dalam memutuskan pendamping Sandiaga langsung banting setir merapat ke Demokrat dan membentuk poros Cikeas, entahlah apakah datang ke Cikeas dengan tangan kosong atau memang sudah membawa beberapa nama yang hendak dideklarasikan. Dan sudah kita ketahui bersama ternyata nama yang keluar adalah bukan seperti yang diduga oleh kebanyakan pengamat.

Lengkap sudah bahwa pesta Pilgub DKI 2017 cuma dilakoni oleh parpol yang punya modal besar seperti PDI-P, Gerindra dan Demokrat dimana tiap partai tersebut memunculkan jagoan’nya masing-masing. Sedangkan partai lainnya cuma ikutan meramaikan pesta saja, karena tidak punya jagoan yang mampu melawan petahana, tapi kemana-mana berkoar akan mampu mengalahkan Ahok.

Pada akhirnya tokh mereka realistis kalau untuk mengalahkan Ahok itu bukan perkara mudah apalagi ternyata tidak gampang mencari calon penantang yang seimbang buat petahana, sehingga mungkin baru terpikirkan buat apa buang-buang modal dan berkeringat susah payah tapi ternyata hasilnya tetap jeblok juga. Mereka berhitung untung rugi’lah, lebih enak ikut acara pesta’nya saja. Kalau menang mereka bisa klaim ikut berperan aktif, entahlah kalau hasilnya ternyata kalah alasan apa lagi yang hendak dipakai.


Nyali Ahok Diuji Megawati


Mendengar akhirnya PDI-P memutuskan mendukung Ahok akhirnya membuat lega beberapa orang dan tentunya membuat sakit hati beberapa orang lainnya. Tak dapat dipungkiri gonjang ganjing yang terjadi beberapa bulan terakhir tidak lepas dari gerak gerik ibu ketum ini.


Pada saat Ahok tidak memiliki partai dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti teman Ahok sebagai kendaraan untuk maju dalam Pilgub 2017, Ahok datang menghadap Megawati menyampaikan keputusan yang diambilnya disertai dengan alasannya yang saya kutip dari tulisan kompasioner Daniel H.T sbb :

"Saya bilang ke Ibu Mega, saya sudah putuskan, ikut Teman Ahok, dengan segala risiko. Ibu katakan, gak gampang, lho. Ya, sudah, Bu, kalau ternyata, saya tidak bisa ikut, PDIP gak mau dukung saya, ya, sudah, kalau butuh saya kampanye untuk Pak Djarot yang maju, saya akan kampanye buat Pak Djarot. Saya gak jadi gubernur gak masalah.”

Saya rasa ini menjadi momen dan poin penting bagi kedua’nya, Ahok yang punya hubungan baik dengan Megawati menyampaikan keputusannya secara langsung dihadapan Megawati dengan maksud agar dapat didengar langsung dari Ahok disertai dengan alasannya dan tidak mendengar dari berita media maupun pembisik yang beredar di luar yang kadangkala informasinya diplintir. 

Disisi lain Megawati walau mungkin dalam hatinya agak sedikit terkejut dengan keputusan Ahok tersebut, disisi lain Megawati menghargai keputusan Ahok tersebut dengan datang ke kediaman Megawati dalam artian Ahok berani secara gentleman bicara face to face, sebuah sikap berani, berkarakter dan berintegritas yang saya rasa dihormati Megawati. Disinilah awal strategi dimulai, bisa jadi saat itu Megawati mulai intens memantau gerakan di masyarakat DKI dan Indonesia terkait dengan gebrakan Ahok tersebut, apakah makin terpuruk dihantam badai dari segala penjuru atau malah makin berkibar dan makin kinclong ?

Fakta 1 

dilapangan ternyata berbicara lain, ternyata gerakan teman Ahok bergerak secara masif dan semangat tinggi walau di fitnah sana sini, target 1 juta KTP pun ternyata dapat diraih dengan kerja keras. Gerakan teman Ahok mendapat respon positif dari rakyat DKI, agar Ahok tetap dapat maju dalam Pilgub 2017. Bahkan diacara tertentu yang digelar, pendukung yang mau hadir rela membayar tiket dengan cara membeli merchandise.

Fakta 2

Ahok tidak mengemis ke partai lainnya dengan mengatakan kalau mau dukung ya monggo kalau tidak mau dukung ya sudah, tugas dia akan berakhir di Oktober 2017, ternyata Nasdem, Hanura dan Golkar malah merapat memberikan dukungan.

Fakta 3, 

ketika lawan politik Ahok melihat saat itu PDI-P naga-naganya akan meninggalkan ahok maka serangan ke Ahok makin gencar, bukannya adem ayem … Ahok malah tambah beringas menghadapi lawan-lawan yang coba menjegalnya … bahkan urusan ke KPK dan pengadilan’pun dilakoni’nya.

Fakta 4

Ahok tidak ciut nyalinya dengan isu-isu kader PDI-P (Risma) untuk dicalonkan ke DKI, bahkan Ahok katakan, “kalau ada yang lebih baik dari saya ya jangan pilih saya … bodoh namanya .. pilihlah yang lebih baik mau bekerja keras lebih baik dari saya untuk DKI” … statement ini mendapat nilai plus karena merupakan sikap siap berkompetisi secara total untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Ketika PDI-P terlibat dalam koalisi kekeluargaan, ini yang agak bikin rada tidak jelas ... apakah hal ini dibiarkan oleh Megawati untuk melihat reaksi Ahok, atau memang akhirnya para kader di PDI-P nya yang kebablasan tanpa permisi dulu ke Megawati .. mungkin kalo koalisi”an .. Ibu Ketum tidak terlalu menggubris namanya juga demokrasi sambil nge-test air … tapi begitu ada nyanyian Ahok pasti tumbang, ini mungkin yang dianggap kebablasan sehingga Bambang DH dicopot, sepertinya ini sinyal pertama dari ibu Ketum ke Ahok, Masinton pun yang tadinya galak dibeberapa talk show, terakhir seperti kerupuk disiram air … rada-rada gimana gitu …. Adian Napitupulu hmm tidak jelas lagi kemana dia sejak kasus Teman Ahok yang dipecat itu.

Dengan status Ahok yang tadinya belum mendapat dukungan partai ternyata dukungan rakyat DKI begitu kuat walau ada juga yang menolak sampai-sampai harus menjual kaos anti Ahok, ternyata tingkat elekbilitasnya tidak terpengaruh signifikan, tingkat kepuasan publik’pun ternyata masih positif. Diutak atik calon penantang berpasangan dengan siapapun ternyata nama Ahok tetap berkibar.

Dalam tayangan youtube, tiap pagi warga datang ke balaikota dan dilayani secara langsung oleh Ahok, jika memang rakyat ogah pemimpin arogan tentunya hal ini tidak akan terjadi tiap hari di balaikota, belum lagi jika sedang ada acara .. bisa dilihat hampir semua rakyat DKI senang berjumpa dengan Ahok sampai” ngajak selfie bareng .. hal ini tidak pernah terjadi di era sebelum Jokowi dan Ahok, bagaimana rakyat antusias jika ada pemimpin’nya datang berkunjung. Rakyat juga yang merasakan apa benar Ahok sombong dan arogan serta tidak berpihak kepada rakyat kecil ? alih-alih dukungan ke petahana merosot tajam, yang terjadi adalah para pendukungnya tetap solid (mudah”an demikain sampai Februari 2017).

Melihat kejadian yang berlangsung selama ini, Megawati bisa jadi sampai pada kesimpulan bahwa pada akhirnya Ahok memang layak didukung. Saya rasa (bisa saja salah) batu ujian maupun rintangan yang bukan skenario PDI-P maupun yang dibangun oleh PDI-P telah mampu dilewati Ahok.


Maaf... Anda Terlambat Start


Cukup menarik peristiwa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini, perang urat syaraf yang cukup melelahkan tidak saja bagi yang terlibat langsung tapi juga bagi masyarakat awam yang mengikuti dari waktu ke waktu. Bagi yang bisa membaca dan menyimak drama yang dipertontonkan oleh para elit ini tentu sudah paham kira-kira akan bagaimana akhir dari cerita ini. Tapi bagi yang kurang paham atau ogah menelusuri lebih dalam tentu dibuat sedikit gundah dengan banyaknya informasi yang berseliweran di media yang kadang kala saling bertolak belakang dengan kenyataan yang diharapkan.

Sebenarnya sejak Jokowi diangkat jadi Presiden tahun 2014 dan Ahok diangkat menjadi Gubernur, bisa dikatakan bahwa ini menjadi titik awal dari semua cerita yang terjadi saat ini. Suka atau tidak suka, saat itu Ahok sudah resmi menjadi Gubernur DKI.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan Jokowi dan Ahok demikian mesra selama ini dan ini tidak luput dari perhatian Ibu Megawati sebagai Ketum PDI-P, nah dalam kondisi demikian para elit maupun kelompok yang anti Jokowi dan anti Ahok menjadi terbelah fokusnya antara memelototi kinerja Jokowi sebagai Presiden dan Ahok sebagai Gubernur DKI dengan berupaya mencari kesalahan atau kelemahan dari kedua pemimpin tersebut.

Terus terang saja, secara strategi tempur sulit memenangkan peperangan di dua front yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, apalagi lawan yang dihadapi adalah lawan yang cukup tangguh dan mempunyai karakter bertempur tanpa lelah.

Disaat para hater sibuk mencari kesalahan dan kelemahan, ternyata Jokowi dan Ahok malah sibuk ngebut dengan bekerja keras mewujudkan apa yang menjadi program kerja mereka (walaupun tidak semua berjalan mulus).

Khusus untuk DKI, bagi pengatur strategi agar bisa memenangkan peperangan Pilkada 2017, 2 tahun rasa-rasanya merupakan waktu yang lebih dari cukup untuk mempersiapkan calon penantang yang sepadan dan program yang akan dijual untuk bersaing dengan petahana.

Tapi yang terjadi adalah kebalikannya, para lawan petahana malah sibuk melakukan serangan-serangan sporadis yang serba tanggung yang kurang mendapat simpati publik dimulai dari masalah SARA sampai tuduhan-tuduhan yang bermuatan politis. Di mata sebagian rakyat perilaku tersebut dianggap tidak bermutu kalau tidak mau dianggap murahan. Bahkan saking semangatnya sampai-sampai aparat hukum maupun KPK pun mereka mau atur agar menuruti kehendak sebagian kelompok tersebut.

Kelompok yang menentang petahanapun menimbulkan kesan seolah-oleh mereka solid demi satu tujuan yang sama, benar tujuan mereka sama tapi ternyata dibalik tujuan tersebut bisa jadi tersembunyi juga kepentingan masing-masing kelompok yang ternyata makin hari makin nampak jelas menjelang penentuan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Ditambah pula dengan munculnya beberapa oportunis yang seakan-akan memiliki kapabilitas dan prestasi sebelumnya untuk melawan petahana dan membereskan DKI. Faktanya secara elektibilitas jangankan bersaing dengan petahana, untuk melewati survey angka 1 digitpun nampaknya merupakan pekerjaan rumah yang rada-rada mustahil.

Bagaimana dengan petahana ?  Ahok mengerti dan paham benar siapa dirinya, apa kekuatan dan kelemahannya. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu mengatakan bahwa beliau adalah ‘dobel minoritas’ yang segala gerak geriknya selalu diawasi oleh para lawan-lawan politiknya.

Disinilah kecepatan manuver Ahok terlihat, beliau langsung ngebut mengejar semua pekerjaan rumah yang masih belum selesai sepeninggal Jokowi dan Ahok mengerti bahwa dia berpacu dengan waktu yang tidak bisa ditawar-tawar.

Bisa dibayangkan dalam kecepatan tinggi tersebut Ahok mau tidak mau harus berbenturan dengan pihak eksternal tetapi juga dengan internal jajaran pemprov DKI yang tidak bisa atau pura-pura tidak paham dengan rencana Ahok untuk membereskan Ibukota, bahkan lembaga tinggi negarapun tidak luput bersenggolan dengan Gubernur satu ini. Perhatikan saja, rakyat dari yang melarat sampai dengan yang kaya, pejabat rendah sampai mentri, anggota Dewan, media, orang asing pun pernah merasakan pedasnya berhadapan dengan Ahok. Untuk seorang Ahok untuk mewujudkan keadilan sosial maka baginya tidak ada pilihan, semua dilakukan tanpa pandang bulu.

Disisi lain, Ahok juga memberikan penjelasan / mengajar dalam beberapa kesempatan baik itu via youtube, wawancara, talkshow, etc. dan yang disampaikan Ahok itu mudah dimengerti secara logika disertai landasan berpikir dan aturan-aturan yang mendukungnya sehingga bagi orang awam tidak terlalu sulit memahami apa yang disampaikan beliau. Betul, awalnya banyak orang berprasangka itu adalah pencitraan, tapi ternyata terobosan Ahok membuahkan hasil nyata, dapat dilihat dan dirasakan publik.

Disinilah point yang tadinya dianggap kelemahan (dobel minoritas) diubah menjadi kekuatan dengan menampilkan karakter yang teruji disertai program yang menyentuh langsung kehidupan rakyat DKI secara langsung. Secara hitung-hitungan maka kelemahan Ahok dapat tertutupi dengan kelebihan yang dimilikinya, secara debit – kredit nilainya masih surplus.

Saya tidak percaya jika dikatakan Ahok itu orangnya ceplas ceplos tanpa perhitungan. Dari semua yang pernah saya lihat di youtube, setiap langkahnya maupun langkah lawah sudah diperhitungkan dengan matang bagaikan pemain catur yang sudah mampu menganalisa jauh langkah didepannya. Sejauh ini saya melihat justru lawan-lawan politik itulah yang menari diatas gendang Ahok, bukan sebaliknya.

2 tahun waktu yang cukup panjang bagi penantang ahok, yang ada mereka malah menelanjangi diri sendiri karena cara berpikir yang amburadul bahkan terkesan anti NKRI dan Pancasila.

2 Tahun bagi Ahok adalah waktu yang cukup bagi Ahok untuk sedikit banyaknya dapat keluar dari bayang-bayang Jokowi dan mempertontonkan serta pembuktian integritasnya sebagai pemimpin yang mau bekerja keras demi rakyatnya dan menjaga harta DKI agar tidak dicuri. Benar belum semuanya dapat disejahterakan tapi paling tidak arah ke tujuan ber-keadilan sosial yang dimaksud pendiri bangsa ini gambarnya semakin jelas.

Selamat kepada pak Ahok dan pak Djarot atas terpilihnya sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur di pilkada DKI tahun 2017.

Untuk calon penantang petahana, walaupun masih ada waktu tersisa sekitar 5 bulan menjelang Pilkada DKI 2017 …. Ma’af Anda terlambat Start,………..kecuali Tuhan berkehendak lain.


Kepingan Kisah Reklamasi Pantai Utara

Memperhatikan beberapa hari terakhir ini terkait masalah reklamasi pantai utara, ada beberapa tulisan dan pembahasan yang cukup menarik perhatian. Sudah barang tentu dari semua pembahasan itu ada yang pro dan kontra termasuk pula mengenai aktor-aktor yang terlibat dalam pusaran korupsi tersebut.

Kadang kala entah karena terlalu bersemangat atau mungkin sdh dapat bocoran atau memang punya naluri detektif, krn dari beberapa diskusi sepertinya aktor yang terlibat di dalam pusaran korupsi reklamasi pantai utara Jakarta ini sdh dapat disimpulkan.

Dari beberapa tulisan saya rasa sdh cukup dalam analisa'nya, dan sptnya kesimpulannya pun tidak akan terlalu sulit untuk ditebak, tapi sekali lagi sampai nanti ada keputusan dari yg berwenang semua masih merupakan teka teki dan kepingan yang terserak.

Saya cuma ingin nambahin kepingan lain, siapa tau bisa jadi tambahan dalam merajut suatu bentuk nanti'nya.

Keping 1 

Kalau diruntut ke belakang maka masalah ini telah dibahas jauh di periode" sebelumnya bahkan dari beberapa tulisan kompasioner dan informasi lainnya diketahui bahwa masalah ini sdh ada sejak zaman Presiden Soeharto, nah apa nda hebat ... ternyata ini merupakan kisah lama yang mencuat kembali di era sekarang ... bagaikan cinta lama bersemi kembali.

Saya berandai-andai, jika Sanusi tidak terkena operasi tangkap tangan (OTT) maka bisa jadi masalah inipun akan berlarut-larut dan menjadi pekerjaan rumah pemimpin DKI berikutnya dan kasus inipun akan sulit terbongkar. Mengapa hal ini bisa molor sedemikian lama ? rada-rada sulit juga menjawabnya tp paling tidak dari beberapa pengalaman jika sesuatu hal terkatung-katung dan menyangkut biaya yang besar maka biasanya disitu tumbuh subur beberapa kepentingan lain yang ingin ikut bermain ... kenapa bisa ? bisa jadi karena para pemain tersebut mempunyai akses dan kekuasaan untuk terlibat didalamnya.

Keping 2 :

Hal menarik lainnya adalah tulisan di media cetak Kompas tgl 6 April 2016, disitu diungkapkan bahwa pembahasan RAPERDA terkait RTRKS (Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis) untuk merevisi PERDA no.8 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Kawasan Pantura Jakarta telah dibahas oleh pemprov DKI dan DPRD DKI sejak bulan Nov 2015 dan telah melalui rapat sebanyak 16 kali.

Pertanyaannya apa sih yang dibahas sampai sekian kali itu dan ternyata belum rampung" juga ? padahal RAPERDA yang akan dibuat itu adalah merupakan sebuah revisi atau katakanlah penyempurnaan dari PERDA yang lama yang telah dipakai sebelumnya. Saya pun belum mendapatkan kira" hal apa sih yang akan direvisi atau disempurnakan.

Mengapa bisa lama sekali terjadi tarik ulur antara DPRD DKI dengan Pemprov DKI ? tidak banyak yang tahu alasan dibalik itu kecuali akhirnya mencuat coretan Ahok d draft PERDA dimaksud. Coretan Gubernur yang dinilai cukup keras itupun dibuat tepat di bawah pasal usulan Badan Legislasi (Baleg) DPRD DKI yang disertai paraf dan tanggal dibuatnya coretan itu yaitu tanggal 8 maret 2016, jauh sebelum Sanusi terkena OTT.

Saya merasa inilah akar dari masalahnya, rentang nilai 10% (15% menjadi 5%) jika kita kalikan dengan sebutlah dalam bentuk omzet penjualan di angka 1 trilyun maka kita sdh bicara angka 150 Milyar yg harus disetor ke DKI , kalaulah akhirnya jika disetujui 5% maka nilai yang disetor cuma 50 Milyar.

Kalau saya sebagai pengusaha, jika kewajiban hrs bayar 150 Milyar ternyata bisa di setel nantinya menjadi cuma 50 Milyar saya masih save 100 Milyar. Kalaupun saya harus menyuap anggota DPRD dan Pemprov katakanlah habis 30 milyar ... saya masih save 70 Milyar. Suatu jumlah yang sangat besar .... tidak salah jika pihak berwenang pun menyatakan ini merupakan kategori Grand Corruption.

Itupun kalo memang omzet nya 1 Trilyun, lah kalo lebih dari itu ? knp saya bilang bisa lebih, lah gimana engga wong disana ada 17 Pulau .....saya pun mungkin deg-deg plas ngebayangin'nya .. kira" kuat nda ya bilang 'No' hehehehehe ... 

Koq berani ? apa nda takut ketahuan aliran dana yg begitu besar masuk rekening ? jangan kuatir sekarang dah banyak bank" luar negeri yg siap nampung dana beginian, nda usah jauh" lah di Singapore saja bbrp tahun yg lalu ditenggarai banyak orang kaya Indonesia menyimpan uang'nya disana.

Keping 3 :
Apakah pembahasan mengenai ini cuma ada di lingkup Pemprov DKI dan DPRD DKI saja ? ternyata tidak, karena di era kepemimpinan Jokowi sebagai Gubernur DKI pun beliau sdh pernah menghadiri rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI untuk membahas reklamasi pantai utara Jakarta.

Bukannya hendak membela salah satu pihak, akan tetapi mendengar penjelasan pa' Jokowi pada rapat kerja tersebut dengan penjelasan yang disampaikan Ahok saat ini saya nilai masih ada kesinambungannya, artinya Ahok melanjutkan program kerjanya pa' Jokowi dan pa' Jokowi pun saya rasa melanjutkan 'homework' ini dari Gubernur" sebelumnya. Dan saat itu pun sdh mencuat informasi mengenai beberapa pengembang yang nakal karena belum ada ijin tapi sdh berani melakukan penjualan, dapat diliat di video diatas ini.


Keping 4 :

Kehebohan Pilpres 2014 kemarin dan intrik"yang terjadi selama pesta demokrasi itu seakan mengalahkan persoalan lainnya yang terjadi di Indonesia khususnya di DKI yang sarat dengan segala kerumitannya yang tentunya membutuhkan konsentrasi untuk diselesaikan.

Masuk tahun 2015, tepatnya tanggal 13 April 2015, dalam RAPIM Pemprov DKI, agenda pembahasan reklamasi pantai utara Jakarta mencuat kembali dan mejadi salah satu topik yang dibahas cukup serius oleh Plt Gubernur dan jajarannya.

Jika dilihat sekilas tampilan presentasi yang dibuat jajaran pejabat di Pemprov DKI disertai landasan hukumnya maupun informasi" yang menyertainya, sepertinya keputusan yang diambilpun sdh melalui perhitungan matang baik pro dan kontra'nya, entahlah kalau memang ada aturan yang terlewatkan atau sengaja dilewatkan atau masih dispute terkait pengertian dan pelaksanaan operasional di lapangan. Link RAPIM dapat di video ini:


Kepingan lainnya tentang kasus ini sdh banyak ditulis oleh para kompasioner disini, terserah kepada yang baca bagaimana kepingan itu disatukan menjadi bagian cerita yang utuh dengan menggunakan pikiran yang logis dan jernih dalam memandang masalah secara keseluruhan tanpa menghilangkan pokok masalah yang terjadi dan bukti" yang ada.

Apakah hasil akhir cerita akan sesuai dengan keinginan yang merajut atau tidak, itu kembali kepada niat awal apakah kepingan itu mau disatukan secara harmonis dan lengkap sehingga mempunyai bentuk atau malah jadi nda karu"an karena asal dirajut .
Nah sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut oleh KPK yang bisa jadi akan menyeret aktor-aktor lainnya yang terlibat, mungkin langkah bertukar pikiran disertai dengan data dan argumen yang valid akan sangat membantu untuk mempertajam pola pikir secara bersama.

The most valuable thing in the world is the truth, in fact so valuable... that it is often defended by a bodyguard of lies - Winston Churchill





Ahok Pasti Kalah


Mendengar komentar beberapa bakal calon gubernur DKI ditanya mengenai peluangnya di pilkada tahun 2017, rata-rata menjawab pasti menang, bahkan ketika ditanya bagaimana peluangnya berhadapan dengan petahana, maka jawaban yang keluar adalah : “ahok mah kecil, pasti kalah dia ! “

Ada juga jawaban yang optimis karena melihat statistic yang ditayangkan di beberapa media ternyata elektabilitas ahok hanya 43%. Masing-masing penantang merasa masih ada peluang kurang lebih sekitar 45% undecided voter yang masih melihat lihat siapa para balon yang nantinya akan benar-benar dicalonkan sebagai kandidat DKI-1.  Jadi sebenarnya pertarungan putaran 1 dapat dipastikan adalah pertarungan diantara para penantang petahana itu sendiri karena secara elektabilitas ternyata mereka semua hanya mampu meraih single digit saja saat ini kecuali satu balon yaitu Ridwan Kamil.

Tentunya pertarungan di putaran awal sangat penting, karena salah-salah jika perolehan suara Ahok 50+1 maka selesailah sudah dan untuk mengejar selisih 8% rasa-rasanya untuk Ahok tidak akan terlalu sukar,  terlebih jika penampilan para penantang petahana tidak menyakinkan di waktu yang tersisa sampai dengan tahun 2017 nanti.

Mereka berharap di putaran ke 2 barulah pertarungan sesungguhnya yaitu head to head dengan Ahok dengan harapan para pemilih yang tadinya tersebar ke beberapa balon maupun yang belum menetapkan pilihan akan segera menetapkan pilihan dengan catatan yang penting bukan Ahok
Jika melihat hasil survey yang dilakukan oleh CSIS pada tanggal 5-10 Januari 2016 dengan tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin error +/- 4,9 persen terhadap 12 nama balon, maka hasilnya adalah sebagai berikut :
  1. Basuki T Purnama (Ahok)      : 43,25 %  
  2. Ridwan Kamil                         : 17,25 %  
  3. Tri Rismaharini                       :   8,00 %  
  4. Adhyaksa Dault                      :   4,25 %  
  5. Hidayat Nur Wahid                 :   4,00 %  
  6. Tantowi Yahya                        :   4,00 %  
  7. Abrahan ‘Lulung’ Lunggana   :   3,75 %  
  8. Nachrowi Ramli                      :   3,75 %
Jika para balon itu percaya diri akan menjadi keluar sebagai pemenang, pertanyaan berikutnya adalah kepada para partai pendukung balon tersebut. Seberapa yakin kah jagoan mereka akan menang. 

Ada hal menarik yang dilakukan Koalisi Merah Putih (KMP) melalui sosmed tweeter, yaitu melalukan survey mencari siapa kira-kira yang layak dicalonkan sebagai kandidat DKI-1. Hasilnya cukup mengejutkan

Mungkin survey pertama ini dirasa kurang valid oleh para admin’nya sehingga perlu diulang kembali dua hari kemudian dengan hasilnya adalah

Jika melihat survey internal kecil-kecilan semacam ini sudah barang tentu akan membuat para tokoh-tokoh sentral partai menjadi galau karena ternyata diluar dugaan respon yang diberikan melalui sosmed mereka sendiri ternyata nama Ahok masih yang terdepan.

Sejatinya jika partai-partai tersebut memang benar mewakili rakyat, tentunya mereka dalam hal menjaring calon sepatutnya mencari masukan dari rakyat yang diwakilinya dengan mendengarkan masukkan masyarakat sehingga dalam menetapkan balon tidak berseberangan dengan aspirasi konstituennya.
Anehnya baik para penantang maupun para partai pendukung nya merasa mampu mengalahkan petahana karena dinilai banyak memiliki dosa dan kekurangan selama menjabat wakil gubernur maupun setelah menjadi gubernur. 

Terus terang ketika para balon dan partai pendukung tertentu mengatakan dengan lantang bisa menang melawan petahana saya pun serius menyimak sambil mencari tahu bagaimana kira-kira jurus andalan yang akan dipakai, dari sisi mana mereka akan masuk menyerang untuk mengalahkan Ahok.

Setelah lihat sana sini akhirnya saya agak sedikit kecewa juga, ternyata bukan visi misi maupun program yang ditawarkan akan tetapi cuma menceritakan kejelekan ini itu dari petahana. Sungguh disayangkan, dengan waktu tersisa yang semakin dekat, para penantang sepertinya belum menemukan jurus yang tepat untuk mulai menjual dirinya di masyarakat DKI. 

Kalau hanya berkoar koar bisa menang tapi tanpa roadmap yang jelas apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki Jakarta, mohon maaf saja berarti para penantang petahana itu sama saja menghina warga DKI karena menganggap warga DKI buta politik dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi di Jakarta.

Ayolah, mumpung masih ada waktu … kalau para penantang ini yakin bisa mengalahkan petahana, maka gunakanlah waktu yang tersisa untuk mulai menjual program andalan masing-masing ke warga DKI, sehingga warga DKI bisa menilai, mengukur dan menganalisa secara arif menggunakan hati nurani mana dari tiap program yang ditawarkan itu yang berpihak kepada warga DKI dan dengan niat tulus akan dilaksanakan tentunya.