![]() |
Dalam triwulan pertama tahun 2026 ini, publik
disuguhi berita tentang kondisi maskapai Garuda Indonesia yang sepanjang tahun
2025 kembali mengalami kerugian finansial. Kerugian yang dialami Garuda Indonesia
kali ini mencapai USD.319.39 juta atau sekitar IDR.5,4 triliun (kurs 16.900), kerugian
ini melonjak sangat tajam dari kerugian di tahun 2024 yang mencapai USD.69.77
juta atau sekitar IDR.1,1 triliun (kurs 15.850). Kondisi finansial yang terus
merugi selama satu dekade ini membuat Garuda Indonesia menjadi beban bagi
keuangan negara dalam jangka panjang.
Ditinjau dari sisi sejarah, Garuda Indonesia
(GIA) bukan sekadar maskapai, tetapi merupakan simbol kebanggaan nasional yang
lahir dari sejarah penerbangan sipil Indonesia sejak awal kemerdekaan pada 26
Januari 1949. Sebagai flag carrier, Garuda merepresentasikan kedaulatan
udara, citra bangsa dan identitas pelayanan khas Indonesia di mata dunia Internasional,
sehingga memiliki peran strategis membawa identitas Indonesia melalui pelayanan
full service dengan standar Internasional. Ikut keanggotaan Sky Team
Alliance sehingga memposisikan GIA dalam jaringan global dan di kenal di dunia
penerbangan. Dan sebagaimana maskapai besar dunia lainnya, GIA juga memiliki
program loyalitas yaitu Garuda Miles yang menjadi instrumen diplomasi layanan
yang memperkuat hubungan maskapai dengan para pelanggan setianya baik pelanggan
domestik maupun internasional. Namun di balik semua simbol kebanggaan itu, GIA
juga menghadapi tantangan yang sangat besar, beberapa hal diantaranya adalah
kondisi kerugian finansial yang terus berulang dengan nilai yang tidak kecil
sehingga menimbulkan kritik dari masyarakat luas. Dengan kondisi dan status
seperti demikian GIA memiliki ketergantungan pada APBN, hal ini mau tidak mau
harus dilakukan dan dianggap perlu untuk menjaga keberlangsungan, tetapi di
sisi lain menimbulkan perdebatan tentang efisiensi di dalam tubuh maskapai. Tidak
hanya persoalan internal, GIA juga menghadapi persaingan domestik di mana maskapai
low-cost carrier membuat GIA kesulitan untuk mempertahankan citra maskapai
premium tanpa tekanan finansial.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab utama
kerugian Garuda Indonesia dalam 10 tahun terakhir diantaranya adalah :
1. Biaya Operasional dan Fixed Cost
- Biaya ini melibatkan perawatan armada,
GIA mengoperasikan pesawat wide-body (A.330, B.777) yang biaya
perawatannya lebih tinggi dibanding narrow-body (B.737)
- Harga bahan bakar avtur di Indonesia
relatif cukup mahal dibandingkan harga di negara lain, dan ini merupakan
komponen yang cukup besar sehingga cukup menekan margin.
- Biaya tetap seperti leasing, gaji dan
operasional tetap lainnya tidak sebanding dengan pendapatan yang masuk ke kas
perusahaan.
2. Fluktuasi Nilai Tukar
Hampir sebagian besar biaya operasional yang
dikeluarkan oleh GIA di bayar dalam mata uang USD. Kondisi nilai tukar mata
uang Indonesia yang lemah terhadap mata uang asing lainnya akan meningkatkan
beban biaya, meskipun pendapatan tiket meningkat akan tetapi belum cukup
sebanding karena semua diterima dalam mata uang rupiah.
3. Pendapatan Tidak Mampu Menutup Beban
Pandemi telah berlalu sekitar 5 tahun, dan
selama masa pemulihan terjadi peningkatan pendapatan, akan tetapi secara keseluruahan
pendapatan yang masuk belum cukup untuk menutup beban operasional. Belum lagi
harus bersaing dengan maskapai low cost carrier (Lion Air, Air Asia,
dll) membuat GIA kesulitan untuk menaikkan harga tiket yang sudah dalam posisi
premium.
4. Tantangan Ekonomi Global dan Internal
GIA mempunyai tantangan internal yang
tidak ringan yaitu pelaksanaan efisiensi secara menyeluruh akan tetapi setelah
sekian lama terlihat hasilnya belum optimal, restrukturisasi hutang juga belum
sepenuhnya mengurangi beban bunga secara signifikan. Secara eksternal GIA menghadapi
gejolak global yang tidak dapat dikontrol meskipun sudah diantisipasi seperti
fluktuasi harga minyak, kondisi geopolitik dunia dan ketidakpastian ekonomi yang
ikut mempengaruhi trend jumlah penumpang maupun tujuan penerbangan.
Dampak dari kondisi GIA yang terus merugi
tidak terbatas pada perusahaan yang bersangkutan tetapi juga berimbas industri
penerbangan domestik dan negara, yaitu sebagai berikut :
A. Dampak Terhadap Industri Penerbangan :
1. Terjadi distorsi persaingan, dukungan dana
negara membuat GIA tetap dapat bertahan meskipun merugi bertahun-tahun menciptakan
ketidakseimbangan dengan maskapai swasta, utamanya LCC (low cost carrier). Maskapai
swasta harus bersaing tanpa subsidi dan harus berpikir keras agar kondisi
mereka tetap sehat, ini membuat pasar menjadi tidak sehat.
2. Harga tiket dan layanan mulai
terpengaruh. GIA sebagai full service carrier akan kesulitan menekan harga
tiket, sementara LCC mendominasi pasar domestik dengan tarif murah. Kondisi ini
menimbulkan segmentasi pasar secara tajam, GIA untuk kelas premium sendangkan
LCC mengambil porsi mayoritas penumpang domestik.
3. Kerugian GIA yang berulang akan
menurunkan citra GIA sebagai maskapai nasional, ini akan mempengaruhi
kepercayaan publik dan penumpang mulai mempertanyakan konsistensi layanan dan
keberlanjutan operasional serta jaminan keselamatan penerbangan.
B. Dampak Terhadap Negara
1. Beban fiskal, suntikan dana dari APBN
yang berulang kali akan menambah beban fiskal negara setiap tahunnya. Dana publik
yang seharusnya dapat dialokasikan untuk sektor lain (pendidikan, kesehatan,
etc) justru terserap untuk menopang GIA.
2. sebagai flag-carrier, kerugian GIA
mencoreng citra Indonesia dan reputasi nasional di mata dunia, karena maskapai
yang merugi bertahun-tahun dianggap tidak akan mampu bersaing di pasar global.
3. Dalam jangka panjang akan menimbulkan
perdebatan di kalangan publik maupun pemerintahan apakah GIA harus tetap
dipertahankan di bawah BUMN strategis atau dilepaskan menjadi sebuah entitas bisnis
murni. Di sisi lain, keterlibatan dana negara dalam bisnis aviasi ini akan
menjadi studi kasus yang cukup menarik seberapa efektif intervensi negara dalam
industri ini.
Melihat kondisi maskapai Garuda Indonesia yang
tidak ada perubahan ke arah yang lebih positif secara signifikan, sudah waktunya pemerintah
dan pengelola maskapai melakukan langkah strategis agar perusahaan dapat kembali
sehat tidak hanya dari sisi bisnis tetapi juga dari sisi finansial. Adapun langkah
strategis yang harus di ambil harus menyentuh struktur biaya, model bisnis dan
tata kelola serta menyiapkan roadmap strategis misalnya untuk 3 tahun, 5 tahun
dan 10 tahun dan tentu saja ada monitoring milestone tahunan agar tujuan
roadmap besarnya dapat tercapai. Beberapa usulan langkah strategis, yaitu :
1. Restrukturisasi Armada dan Biaya Operasional, fokusnya pada pesawat narrow body (B.737) untuk rute domestik yang lebih efisien dibanding wide body (B.777 / A.330), kecuali jika GIA punya rencana untuk membuka rute internasional yang pasarnya cukup gemuk. Melakukan negosiasi ulang terhadap leasing / kontrak pesawat, sedangkan untuk maintenace rutin , repair dan overhaul, kerjasama yang selama ini sudah ada dengan entitas lokal (GMF) perlu ditingkatkan apalagi armada GIA tidak memiliki tipe yang terlalu banyak sehingga memudahkan di dalam maintenance.
2. Diversifikasi Model Bisnis, meskipun GIA memposisikan sebagai full service tetapi mungkin ke depan sudah waktunya untuk mengembangkan ke level low cost untuk beberapa rute domestik dengan menyasar pangsa pasar lain yang mungkin belum digarap oleh maskapai lain. Mengurangi layanan full service jika penerbangan di bawah 2 jam.
3. Manajemen Keuangan dan Hutang, ini sepertinya merupakan tantangan yang tidak ringan karena ada yang bisa di kontrol ada yang tidak bisa di kontrol oleh manajemen. Untuk hal yang dapat di kontrol seperti pengendalian nilai tukar dengan melakukan hedging. Melakukan restrukturisasi hutang dengan mengurangi beban bunga, entah hutang menjadi ekuitas atau jika tidak memungkinkan maka meminta penjadwalan ulang
4. Strategi Harga dan Persaingan, sebagaimana yang dilakukan oleh maskapai lain dan industri transportasi selain aviasi, maka perlu menggunakan algoritma harga yang fleksibel dilihat dari sisi waktu pemesanan. Melakukan kolaborasi dengan beberapa BUMNN lainnya untuk bundling tiket atau service seperti kereta api atau hotel untuk meningkatkan daya tarik. Tingkatkan GarudaMiles agar tidak hanya berfungsi untuk redeem nilai tiket tetapi juga misalnya dapat di redeem untuk kepentingan lain dalam platform digital sehingga pointnya tidak hangus.
5. Transformasi Organisasi dan Tata Kelola, sekilas ini terlihat sederhana namun sesungguhnya jika maskapai gagal dalam menerapkan ini maka harapan untuk sehat dan menjadi pemain global hanyalah tinggal mimpi. Harus memiliki Good Corporate Governance (GCC), yaitu menghindari praktik korupsi dan inefisiensi yang mungkin sudah menjadi penyakit kronis dalam tubuh GIA sehingga dapat mencoreng reputasi GIA. Di era teknologi seperti sekarang ini, untuk industri yang high tech seperti GIA maka sudah saatnya lebih memanfaatkan teknologi, seperti melatih SDM agar lebih efisien dan sigap dalam pelayanan berbasis digital. Sedangkan dari sisi kebijakan pengelola dan negara harus menentukan dalam kurun waktu tertentu apakah GIA akan tetap menjadi ‘flag carrier’ yang di dukung penuh APBN dengan segala permasalahannya ataukah diarahkan menjadi sebuah entitas bisnis murni tersendiri.
Mungkin ada yang berkata bahwa GIA sudah susah dibenahi karena bagaikan benang kusut dari titik mana dulu yang harus dibenahi, suka tidak suka baik buruknya sebuah perusahaan akan dilihat dari sisi finansialnya. Harus ditemukan titik-titik mana saja yang mengeluarkan biaya tinggi, dan jika sudah diketahui maka apa yang harus dilakukan dengan memberikan beberapa opsi tindakan berdasarkan skala prioritas.
Saya percaya
jika dibenahi satu demi satu titik-titik yang bermasalah maka pada akhirnya
semua akan menjadi baik. Benar bahwa itu akan memakan waktu yang panjang, tetapi
dengan kontrol yang ketat, konsisten dan disiplin yang kuat maka akan terjadi
progress yang semakin baik. Investor dan publik juga akan memberikan apresiasi
positif kepada pengelola jika terlihat dengan jelas langkah-langkah yang menuju
ke arah perbaikan dan terlihat progressnya meskipun itu kecil.
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia
https://tirto.id/garuda-rugi-rp54-triliun-di-2025-ini-penjelasan-dirut-hs4g
https://groove.co.id/garuda-indonesia-rugi-5-4-triliun-2025










