Tuesday, April 7, 2026

GARUDA INDONESIA : ANTARA MASKAPAI KEBANGGAAN DAN KRISIS FINANSIAL

 

Dalam triwulan pertama tahun 2026 ini, publik disuguhi berita tentang kondisi maskapai Garuda Indonesia yang sepanjang tahun 2025 kembali mengalami kerugian finansial. Kerugian yang dialami Garuda Indonesia kali ini mencapai USD.319.39 juta atau sekitar IDR.5,4 triliun (kurs 16.900), kerugian ini melonjak sangat tajam dari kerugian di tahun 2024 yang mencapai USD.69.77 juta atau sekitar IDR.1,1 triliun (kurs 15.850). Kondisi finansial yang terus merugi selama satu dekade ini membuat Garuda Indonesia menjadi beban bagi keuangan negara dalam jangka panjang.

Ditinjau dari sisi sejarah, Garuda Indonesia (GIA) bukan sekadar maskapai, tetapi merupakan simbol kebanggaan nasional yang lahir dari sejarah penerbangan sipil Indonesia sejak awal kemerdekaan pada 26 Januari 1949. Sebagai flag carrier, Garuda merepresentasikan kedaulatan udara, citra bangsa dan identitas pelayanan khas Indonesia di mata dunia Internasional, sehingga memiliki peran strategis membawa identitas Indonesia melalui pelayanan full service dengan standar Internasional. Ikut keanggotaan Sky Team Alliance sehingga memposisikan GIA dalam jaringan global dan di kenal di dunia penerbangan. Dan sebagaimana maskapai besar dunia lainnya, GIA juga memiliki program loyalitas yaitu Garuda Miles yang menjadi instrumen diplomasi layanan yang memperkuat hubungan maskapai dengan para pelanggan setianya baik pelanggan domestik maupun internasional. Namun di balik semua simbol kebanggaan itu, GIA juga menghadapi tantangan yang sangat besar, beberapa hal diantaranya adalah kondisi kerugian finansial yang terus berulang dengan nilai yang tidak kecil sehingga menimbulkan kritik dari masyarakat luas. Dengan kondisi dan status seperti demikian GIA memiliki ketergantungan pada APBN, hal ini mau tidak mau harus dilakukan dan dianggap perlu untuk menjaga keberlangsungan, tetapi di sisi lain menimbulkan perdebatan tentang efisiensi di dalam tubuh maskapai. Tidak hanya persoalan internal, GIA juga menghadapi persaingan domestik di mana maskapai low-cost carrier membuat GIA kesulitan untuk mempertahankan citra maskapai premium tanpa tekanan finansial.

Faktor-faktor yang menjadi penyebab utama kerugian Garuda Indonesia dalam 10 tahun terakhir diantaranya adalah :

1. Biaya Operasional dan Fixed Cost

- Biaya ini melibatkan perawatan armada, GIA mengoperasikan pesawat wide-body (A.330, B.777) yang biaya perawatannya lebih tinggi dibanding narrow-body (B.737)

- Harga bahan bakar avtur di Indonesia relatif cukup mahal dibandingkan harga di negara lain, dan ini merupakan komponen yang cukup besar sehingga cukup menekan margin.

- Biaya tetap seperti leasing, gaji dan operasional tetap lainnya tidak sebanding dengan pendapatan yang masuk ke kas perusahaan.

2. Fluktuasi Nilai Tukar

Hampir sebagian besar biaya operasional yang dikeluarkan oleh GIA di bayar dalam mata uang USD. Kondisi nilai tukar mata uang Indonesia yang lemah terhadap mata uang asing lainnya akan meningkatkan beban biaya, meskipun pendapatan tiket meningkat akan tetapi belum cukup sebanding karena semua diterima dalam mata uang rupiah.

3. Pendapatan Tidak Mampu Menutup Beban

Pandemi telah berlalu sekitar 5 tahun, dan selama masa pemulihan terjadi peningkatan pendapatan, akan tetapi secara keseluruahan pendapatan yang masuk belum cukup untuk menutup beban operasional. Belum lagi harus bersaing dengan maskapai low cost carrier (Lion Air, Air Asia, dll) membuat GIA kesulitan untuk menaikkan harga tiket yang sudah dalam posisi premium.

4. Tantangan Ekonomi Global dan Internal

GIA mempunyai tantangan internal yang tidak ringan yaitu pelaksanaan efisiensi secara menyeluruh akan tetapi setelah sekian lama terlihat hasilnya belum optimal, restrukturisasi hutang juga belum sepenuhnya mengurangi beban bunga secara signifikan. Secara eksternal GIA menghadapi gejolak global yang tidak dapat dikontrol meskipun sudah diantisipasi seperti fluktuasi harga minyak, kondisi geopolitik dunia dan ketidakpastian ekonomi yang ikut mempengaruhi trend jumlah penumpang maupun tujuan penerbangan.

Dampak dari kondisi GIA yang terus merugi tidak terbatas pada perusahaan yang bersangkutan tetapi juga berimbas industri penerbangan domestik dan negara, yaitu sebagai berikut :

A. Dampak Terhadap Industri Penerbangan :

1. Terjadi distorsi persaingan, dukungan dana negara membuat GIA tetap dapat bertahan meskipun merugi bertahun-tahun menciptakan ketidakseimbangan dengan maskapai swasta, utamanya LCC (low cost carrier). Maskapai swasta harus bersaing tanpa subsidi dan harus berpikir keras agar kondisi mereka tetap sehat, ini membuat pasar menjadi tidak sehat.

2. Harga tiket dan layanan mulai terpengaruh. GIA sebagai full service carrier akan kesulitan menekan harga tiket, sementara LCC mendominasi pasar domestik dengan tarif murah. Kondisi ini menimbulkan segmentasi pasar secara tajam, GIA untuk kelas premium sendangkan LCC mengambil porsi mayoritas penumpang domestik.

3. Kerugian GIA yang berulang akan menurunkan citra GIA sebagai maskapai nasional, ini akan mempengaruhi kepercayaan publik dan penumpang mulai mempertanyakan konsistensi layanan dan keberlanjutan operasional serta jaminan keselamatan penerbangan.

B. Dampak Terhadap Negara

1. Beban fiskal, suntikan dana dari APBN yang berulang kali akan menambah beban fiskal negara setiap tahunnya. Dana publik yang seharusnya dapat dialokasikan untuk sektor lain (pendidikan, kesehatan, etc) justru terserap untuk menopang GIA.

2. sebagai flag-carrier, kerugian GIA mencoreng citra Indonesia dan reputasi nasional di mata dunia, karena maskapai yang merugi bertahun-tahun dianggap tidak akan mampu bersaing di pasar global.

3. Dalam jangka panjang akan menimbulkan perdebatan di kalangan publik maupun pemerintahan apakah GIA harus tetap dipertahankan di bawah BUMN strategis atau dilepaskan menjadi sebuah entitas bisnis murni. Di sisi lain, keterlibatan dana negara dalam bisnis aviasi ini akan menjadi studi kasus yang cukup menarik seberapa efektif intervensi negara dalam industri ini.

Melihat kondisi maskapai Garuda Indonesia yang tidak ada perubahan ke arah yang lebih  positif secara signifikan, sudah waktunya pemerintah dan pengelola maskapai melakukan langkah strategis agar perusahaan dapat kembali sehat tidak hanya dari sisi bisnis tetapi juga dari sisi finansial. Adapun langkah strategis yang harus di ambil harus menyentuh struktur biaya, model bisnis dan tata kelola serta menyiapkan roadmap strategis misalnya untuk 3 tahun, 5 tahun dan 10 tahun dan tentu saja ada monitoring milestone tahunan agar tujuan roadmap besarnya dapat tercapai. Beberapa usulan langkah strategis, yaitu :

1.   Restrukturisasi Armada dan Biaya Operasional, fokusnya pada pesawat narrow body (B.737) untuk rute domestik yang lebih efisien dibanding wide body (B.777 / A.330), kecuali jika GIA punya rencana untuk membuka rute internasional yang pasarnya cukup gemuk. Melakukan negosiasi ulang terhadap leasing / kontrak pesawat, sedangkan untuk maintenace rutin , repair dan overhaul, kerjasama yang selama ini sudah ada dengan entitas lokal (GMF) perlu ditingkatkan apalagi armada GIA tidak memiliki tipe yang terlalu banyak sehingga memudahkan di dalam maintenance.

2.   Diversifikasi Model Bisnis, meskipun GIA memposisikan sebagai full service tetapi mungkin ke depan sudah waktunya untuk mengembangkan ke level low cost untuk beberapa rute domestik dengan menyasar pangsa pasar lain yang mungkin belum digarap oleh maskapai lain. Mengurangi layanan full service jika penerbangan di bawah 2 jam.

3.   Manajemen Keuangan dan Hutang, ini sepertinya merupakan tantangan yang tidak ringan karena ada yang bisa di kontrol ada yang tidak bisa di kontrol oleh manajemen. Untuk hal yang dapat di kontrol seperti pengendalian nilai tukar dengan melakukan hedging. Melakukan restrukturisasi hutang dengan mengurangi beban bunga, entah hutang menjadi ekuitas atau jika tidak memungkinkan maka meminta penjadwalan ulang

4. Strategi Harga dan Persaingan, sebagaimana yang dilakukan oleh maskapai lain dan industri transportasi selain aviasi, maka perlu menggunakan algoritma harga yang fleksibel dilihat dari sisi waktu pemesanan. Melakukan kolaborasi dengan beberapa BUMNN lainnya untuk bundling tiket atau service seperti kereta api atau hotel untuk meningkatkan daya tarik. Tingkatkan GarudaMiles agar tidak hanya berfungsi untuk redeem nilai tiket tetapi juga misalnya dapat di redeem untuk kepentingan lain dalam platform digital sehingga pointnya tidak hangus.

5. Transformasi Organisasi dan Tata Kelola, sekilas ini terlihat sederhana namun sesungguhnya jika maskapai gagal dalam menerapkan ini maka harapan untuk sehat dan menjadi pemain global hanyalah tinggal mimpi. Harus memiliki Good Corporate Governance (GCC), yaitu menghindari praktik korupsi dan inefisiensi yang mungkin sudah menjadi penyakit kronis dalam tubuh GIA sehingga dapat mencoreng reputasi GIA. Di era teknologi seperti sekarang ini, untuk industri yang high tech seperti GIA maka sudah saatnya lebih memanfaatkan teknologi, seperti melatih SDM agar lebih efisien dan sigap dalam pelayanan berbasis digital. Sedangkan dari sisi kebijakan pengelola dan negara harus menentukan dalam kurun waktu tertentu apakah GIA akan tetap menjadi ‘flag carrier’ yang di dukung penuh APBN dengan segala permasalahannya ataukah diarahkan menjadi sebuah entitas bisnis murni tersendiri.

Mungkin ada yang berkata bahwa GIA sudah susah dibenahi karena bagaikan benang kusut dari titik mana dulu yang harus dibenahi, suka tidak suka baik buruknya sebuah perusahaan akan dilihat dari sisi finansialnya. Harus ditemukan titik-titik mana saja yang mengeluarkan biaya tinggi, dan jika sudah diketahui maka apa yang harus dilakukan dengan memberikan beberapa opsi tindakan berdasarkan skala prioritas. 

Saya percaya jika dibenahi satu demi satu titik-titik yang bermasalah maka pada akhirnya semua akan menjadi baik. Benar bahwa itu akan memakan waktu yang panjang, tetapi dengan kontrol yang ketat, konsisten dan disiplin yang kuat maka akan terjadi progress yang semakin baik. Investor dan publik juga akan memberikan apresiasi positif kepada pengelola jika terlihat dengan jelas langkah-langkah yang menuju ke arah perbaikan dan terlihat progressnya meskipun itu kecil.

 

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia

https://www.kompasiana.com/harmoko4665/687276e8ed641569db25afb2/garuda-indonesia-simbol-kebanggaan-udara-indonesia

https://tirto.id/garuda-rugi-rp54-triliun-di-2025-ini-penjelasan-dirut-hs4g

https://groove.co.id/garuda-indonesia-rugi-5-4-triliun-2025


Sunday, November 13, 2016

'SARA' di Pilkada DKI 2017, Merupakan Perjudian Dengan Taruhan Besar

Semakin hari semakin ramai saja perbincangan tentang kasus yang menimpa Ahok yang diduga melakukan penistaan agama. Walaupun di media elektronik dan cetak tidak terlalu ramai jadi bahan diskusi yang mungkin disebabkan karena faktor lain seperti terpilihnya Donald Trump sebagai presiden USA atau karena memang sudah ada pesan khusus kepada awak media untuk ikut membantu pemerintah  agar suasana yang ada sedikit ‘cooling down’, tokh masalahnya juga sedang diproses oleh aparat hukum yang berwenang.

Kembali kepada persoalan Pilkada DKI 2017 mendatang, sejak terpilihnya Jokowi sebagaiRI-1 maka  penolakan Ahok sebagai orang yang menggantikan Jokowi sebagai DKI-1 mulai merebak mulai dari letupan-letupan kecil sampai dengan demo massa.

Sejak Ahok memegang tampuk pimpinan DKI-1, sepertinya tiada hari tanpa berita tentang sepak terjang Ahok mulai dari urusan sapu-sapu bersih di birokrat pemprov, debat dengan para pengusaha nakal yang kongkalingkong dengan PNS, ribut dengan anggota DPRD, debat dengan beberapa Menteri kabinet, lembaga negara, awak media elektronik bahkan kadang kepada rakyat yang ngeyel’pun tidak luput dari semprotan’nya baik konglomerat sampai yang melarat.
Memangnya apa saja yang dipertaruhkan selama Ahok menjabat sebagai DKI-1.

1. Gaya Bicara & Perilaku

Mengapa gaya & perilaku ini jadi salah satu taruhan. Sejak menjabat sebagai wagub’pun gaya dan perilaku yang diperlihatkan oleh Ahok sangat jauh berbeda dengan jokowi pada saat itu, bagaikan langit dan bumi. Ahok benar” seperti tidak mengerti kesantunan budaya timur.

Sialnya justru yang ini malah laris manis jadi bahan pemberitaan, bahkan ditiap undangan acara talk show’pun orang lebih tertarik membahas isu ini ketimbang bahas program atau rencana kerja.

Awalnya, sebagian besar masyarakat baik DKI maupun Indonesia cukup shock dengan apa yang diperlihatkan oleh Ahok, orang kristen dan warga keturunan tionghoa pun ketar ketir dengan gaya cowboy tersebut akan menimbulkan efek negatif.

Tidak disangka pula bagi lawan politik, hal yang tadinya dianggap sebagai salah satu kekurangan yang dapat mengurangi nilai justru di mata publik mendapatkan nilai plus dan support penuh. Bahkan ada yang mengatakan marah’nya Ahok itu adalah marah’nya rakyat yang selama ini tidak tahu harus berbuat apa dan melampiaskan kepada siapa.

Taruhan ini dimenangkan oleh Ahok.

2. Integritas, Kejujuran, Konsistensi & Transparansi

Taruhan kali ini rasa”nya bagi sebagian pejabat merupakan tantangan sendiri yang dapat dikatakan cukup berat. Bagaimana tidak, yang harus dilakukan kadang kala harus bertabrakan dengan hampir dengan semua pihak.

Salah satu yang cukup membuat masyarakat terhenyak adalah ketika partai Gerindra bersikap untuk memberikan dukungan terhadap rancangan undang-undang pemilihan kepala daerah dikembalikan seperti dahulu  yaitu dipilih melalui wakil rakyat. Apa yang dilakukan Ahok kemudian dalam merespon juga membuat heboh berbagai pihak yaitu dengan keluar dari keanggotaan partai. Langkah inipun menuai banyak pujian maupun cercaan dari pihak-pihak yang berkepentingan karena disatu sisi Ahok dianggap tidak tau balas budi kepada partai yang ikut membesarkannya, disisi lain orang memuji langkah Ahok karena membuktikan karakter dan ucapannya bukan sekedar omong kosong.

Hal lain yang membuat kuping menjadi merah adalah tantangan Ahok kepada pejabat ataupun politikus yang mengkritik dirinya terkait isu suap dan lain sebagainya, Ahok menantang untuk buka-bukaan soal harta dengan menggunakan pembuktian terbalik yang tentu saja kita sama tau itu pekerjaan sulit atau bahkan bisa dikatakan tidak ada pejabat di Republik ini yang berani menjawab tantangan semacam itu. Yang ada malah dalam beberapa kasus ujung”nya justru lawan politik’nya yang terjerat hukum entah tertangkap tangan, terbukti manipulasi dan bahkan secara konyol memamerkan barang mewah’nya ke publik.

Mungkin untuk taruhan apakah di pilgub 2017 akan tetap maju secara independen atau parpol, rasanya  di kasus ini saja Ahok kalah walau akhirnya bisa kita dengar juga alasan logis mengapa akhirnya Ahok maju melalui jalur parpol.

Masih banyak hal yang dapat diungkap terkait dengan taruhan jenis diatas, tetapi sepanjang kita dengar dan kita ketahui untuk taruhan jenis ini secara umum dimenangkan Ahok, kalau pertandingan sepak bola bisa dibilang menang 3 - 1

3. Program Kerja dan Janji Kampanye

Tidak mudah mewujudkan semua program kerja serta janji  yang pernah diucapkan pada saat kampanye dengan waktu yang  relatif pendek, rintangan yang tidak sedikit baik dari birokrat pemprov sendiri maupun yang datang juga dari yang seharusnya menjadi rekan kerja pemerintah dalam hal ini DPRD.

Bukan perkara mudah untuk tetap fokus menuntaskan semua program kerja tapi sambil direcokin disana sini dengan tujuan agar semua program yang dijanjikan selama kampanye menjadi tidak sempurna bahkan kalau perlu gagal total.

Hanya dengan kerja keras dan turun tangan langsung dalam memimpin setiap program maka hasilnya sedikit demi sedikit mulai menunjukkan hasil dan dapat langsung dirasakan oleh warga.

Suka tidak suka program-program yang dicanangkan dapat dilihat hasilnya secara nyata dan dapat dilihat perbedaan sebelum dan sesudah’nya.

Untuk taruhan ini sepertinya tidak akan ada yang menampik jika dikatakan Ahok memenangkannya.

4. Benturan dengan rasa keadilan

Dalam melaksanakan program kerja, tidak tertutup kemungkinan  sebagian warga akan terimbas baik positif maupun negatif, kalau yang kena imbas positif akan bersyukur akan tetapi yang terkena imbas negatif sudah pasti respon’nya adalah perlawanan.

Beberapa kasus yang paling mengemuka selama Ahok memimpin dan paling banyak menyita perhatian adalah masalah relokasi warga dari tanah negara ke rusunawa. Bagi pejabat lain, mungkin menghadapi satu lokasi relokasi warga saja sudah cukup memusingkan, tapi bagi Ahok justru program relokasi warga ini terjadi untuk beberapa lokasi sekaligus secara berkesinambungan sesuai ketersediaan rusunawa. Bisa dibayangkan betapa ramai’nya media cetak dan elektronik dipenuhi berita seperti ini, belum lagi beberapa oknum pejabat, politisi maupun lembaga masyarakat ikut campur meramaikan.

Terus terang, program yang tidak populer ini seharusnya membuat citra Gubernur merosot tajam, yang terjadi adalah sebagian warga merasa apa yang dilakukan Gubernur sudah benar demi untuk kemajuan ibukota dan sebagian warga yang terkena relokasi’pun tidak dibiarkan merana karena mereka diberikan ‘full facility’ mulai dari kelengkapan tempat tinggal dan isi serta benefit lainnya sebagai warga seperti KK, KJP dan KJS.

Beberapa oknum politisi dan lembaga masyarakat boleh saja punya nada miring atas hal ini, tapi berdasarkan respon warga secara umum akhirnya Ahok memenangkan pertarungan ini.

5. SARA

Setelah semua cara yang ditempuh hampir tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan akhirnya dikeluarkanlah senjata pamungkas untuk menjegal laju dari Ahok. Dan untuk kesekian kalinya jika ini yang dijadikan taruhan makan risiko’nya juga besar.

Untuk taruhan sebelum ini, siapa saja bisa menang tergantung bagaimana dalam memainkan peran dan memberikan hasil, baik itu hasilnya berupa pencitraan atau hasilnya asli karena pemakai’lah yang akan menguji dan menikmati hasilnya.

Tapi untuk yang satu ini apa hendak dikata, Ahok tidak minta dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa, dan sejak kecil dia sudah kristen dan ketika dewasa’pun tetap memutuskan sebagai kristen. Di awal posisi’nya masih terbilang aman, akan tetapi bagai menunggu durian runtuh saja maka begitu ada yang memelintir  hal yang sensitif ini maka peluang menjatuhkan citra Ahok terbuka luas. Nah inilah yang dimainkan sebagai taruhan terakhir dan sampai saat ini masih berlangsung.

Bagaimana hasil akhirnya, biarlah proses hukum yang akan menentukan. Akan tetapi melihat perjudian dengan faktor SARA sebagai taruhan rasanya tidak pantas dipertontonkan kepada masyarakat luas, mengapa demikian ? satu saja jawabannya yaitu dalam dunia ini apresiasi diberikan kepada orang yang mempunyai kinerja baik dan memberikan kontribusi bukan karena apa warna kulit, suku dan kepercayaannya. 

Jika Ahok lolos maka bisa dibayangkan reaksi yang akan terjadi, akan ada sebagian masyarakat yang tidak terima dengan keputusan tersebut. Jika tidak lolos’pun sebagian lain akan melakukan perlawanan. Dari beberapa pantauan di sosmed dan media pihak yang setuju Ahok tidak bersalah dan bersalah tidak lagi terbagi kepada minoritas ataupun mayoritas, bahkan dalam satu agama’pun perbedaan sikap itu sudah mulai muncul dan semakin hari semakin tajam. Itu sebabnya penulis katakan taruhan kali ini sangat besar dampak’nya, karena siapapun yang memenangkan taruhan ini maka pihak yang lain akan memiliki luka yang sulit sembuh atau kalaupun sembuh akan memerlukan waktu yang cukup lama.

Kedepan kiranya taruhan yang model begini jangan lagi terulang, cukup sudah kita melihat runtuhnya suatu bangsa karena perpecahan yang terjadi bukan dari luar akan tetapi disebabkan dari dalam negeri sendiri yang dilakukan oleh oknum segelintir orang ataupun kelompok yang mempunyai kepentingan tertentu. Untuk taruhan jenis ini, baik yang menang ataupun yang kalah akan sama-sama menderita kerugian yang kadang tak terperkirakan sebelumnya, secara gamblang rakyat banyaklah yang akan menanggung kerugian besar dan hanya sekelompok elit tertentu saja yang menangguk untung. Pilihan itu sekarang ada di tangan kita bersama.

Salam Persatuan dan Jayalah Indonesia’ku


Thursday, November 10, 2016

Donald Trump, "Unbelievable"


Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Donald Trump akhirnya akan menduduki posisi orang nomor satu di USA alias seorang presiden dari sebuah negara adidaya. Apalagi selama masa-masa kampanye, posisi Trump senantiasa tertinggal dari Hillary sehingga terkesan pada saat hari pemilihan suara nanti sepertinya Hillary akan menang dengan mudah terhadap lawannya yang dianggap tidak berpengalaman dan banyak kekurangan dalam dunia kehidupannya maupun bisnisnya dibanding Hillary.

Tapi bagaikan pertarungan balap Moto GP, Trump sejak start langsung tancap gas bahkan sampai dengan lap terakhir bukannya terkejar malahan makin jauh meninggalkan perolehan suara lawannya. Hanya di pertarungan kursi US senate saja terjadi pertarungan yang cukup sengit, selebihnya lambat laun dominasi kaum republik sudah tak tertahankan.

Bisa dikatakan pemilihan presiden USA, kursi US senate dan US House Representative tahun 2016 ini semuanya disapu bersih oleh pihak Republik

Sumber: virakesari.lk
Tahun-tahun terakhir kepemimpinan Obama bisa jadi dianggap sudah tidak terlalu memuaskan bagi sebagian masyarakat Amerika terkait dengan beberapa topik hangat baik di dalam negeri maupun urusan luar negeri. Untuk urusan dalam negeri, tanggapan maupun argumentasi para capres terhadap beberapa topik yang menjadi isu perdebatan cukup menyita perhatian suara pemilih dalam menentukan pilihan dan secara tidak langsung berimbas pula terhadap tingkat kepercayaan publik ke partai demokrat.













Beberapa isu yang diangkat kepada kedua calon capres untuk memberikan sikap dan argumentasinya juga memang yang selama ini selalu terjadi perbedaan pandangan yang cukup tajam, sesuatu yang bisa dipakai juga untuk pilkada ataupun pilpres di Indonesia untuk core topik maupun topik tambahan lainnya.







KemenanganTrump yang mengejutkan juga bisa jadi disebabkan oleh beberapa sebab :

1. Masalah Gender


Amerika  walau dikenal sebagai negara adidaya dan penganut paham demokrasi, tetapi belum pernah menghasilkan pemimpin wanita. Untuk yang satu ini amerika kalah dengan Inggris, Filipina, Jerman dan Indonesia. Hillary belum dianggap setara atau mampu bersikap seperti Iron-Lady’nya inggris.

Bisa jadi masyarakat memandang sebuah negara adidaya haruslah dipimpin oleh seorang pria dan berkarakter kuat. Apalagi saat ini masalah dalam negeri  Amerika dan di belahan  dunia lain juga sedang gonjang ganjing.

2. Butuh pemimpin yang kuat


Gaya dan karakter Trump bagaikan cowboy itu dianggap lebih cocok dalam menghadapi persaingan global yang semakin panas dan kadang tak terkendali, terlebih saat ini permasalahan timur tengah, perbatasan, imgirasi dan lain sebagainya yang cukup tinggi tekanannya maka dibutuhkan keputusan cepat dan berani mengambil risiko, untuk hal ini sepertinya bukan merupakan hal yang sulit bagi konglomerat sekelas Trump. Ganjalan mungkin hanya datang dari Senat.

3. Hillary Clinton adalah cerita lama


Dianggap stock lama yang di daur ulang, Amerika membutuhkan darah segar dan kebijakan baru yang lebih menguntungan. Jika memilih Hillary maka ada kemungkinan akan tetap meneruskan kebijakan Obama.

4. Sikap dan perilaku


Entah kenapa, akhirnya urusan email Hillary selama menjabat secretary of state akhirnya bocor ke masyarakat dan ternyata berbuntut panjang. Seperti ada sesuatu aktifitas Hillary selama menjabat yang hendak dirahasiakan dari publik. Untuk yang beginian, masyarakat Amerika rada tidak kenal ampun jika pemimpin’nya dianggap tidak jujur. Dilain sisi, cerita negatif tentang Trump sepertinya serba terbuka dan tak ada yang tertutupi, nah ini pula yang jadi amunisi lawan politik’nya untuk menyerang Trump. Kesan apa adanya dan tidak pura”alim malah mendapatkan nilai positif.


Ada yang cukup menarik dalam pemilihan presiden di Amerika ini, dari seluruh jumlah penduduk Amerika yang berjumlah sekitar 324.650.000 jiwa tahun 2016 ini, dibanding jumlah warga yang datang memberikan suara’nya sebanyak kurang lebih 124.439.671, maka tingkat partisipasi masyarakat yang terlibat hanya sekitar 38,30%. Suatu tingkat partisipasi yang cukup rendah menurut penulis. Apakah disebabkan karena system’nya yang membuat orang malas datang atau memang tidak mau berpartisipasi.

Mudah-mudahan tingkat partisipasi masyarakat di Indonesia baik itu pilkada maupun pilpres bisa tetap dipertahankan diatas 70% seperti pada saat pemilu 2014 kemarin. Jika ingin perubahan maka partisipasi aktif warga sangat dibutuhkan.

Terakhir, kita tunggu saja kiprah presiden Trump ke depan dan dampaknya bagi kepentingan Indonesia dan kawasan Asia secara umum. Mau tidak mau apapun yang dilakukan di negeri Paman Sam ini akan berdampak juga ke Indonesia, bisa hanya riak-riak kecil tapi bisa juga gelombang besar. Mudah-mudahan Presiden Trump tidak membuat kegaduhan baru di dunia yang sudah kadung gaduh ini.

Monday, November 7, 2016

Demo 4 November Ibarat Sebuah Makanan Tanpa Rasa



Sudah pernah blom, makan disebuah restoran ketika akan pesan makanan dari menu yang tersedia semuanya kelihatan lezat, bahkan dengan melihat foto saja sudah mampu membuat yang melihatnya menelan ludah karena membayangkan lezatnya tuh makanan.

Ketika makanan datang dihidangkan di meja dan ketika disantap … ternyata ekspetasi dari gambar yang ada di daftar menu dengan asli yang ada di depan mata, jauh berbeda … rasa tuh makanan nda jelas kalo tidak mau dikatakan hambar … alhasil hilang sudah selera makan yang awalnya menggebu-gebu.

Gambaran diatas, penulis coba pindahkan dengan keadaan demo 4-11 kemarin itu, ketika issue dugaan penistaan agama oleh Ahok demikian gencar maka gaungnya sampai seluruh Indonesia .. bahkan mendunia, bagaimana tidak karena yang memberikan komentar dan pandangan terkait kasus inipun ada juga entah orang Indonesia di luar negeri atau orang Indonesia tapi sudah jadi warga negara asing.

Dimana hambar’nya ?
  • Tidak semua elemen masyarakat setuju dengan langkah demo ini, karena menganggap apakah semua jalur untuk berkomunikasi sudah buntu sehingga demo merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh ? Apalagi ini mengingat periode ini memasuki periode Pilkada dan yang berteriak nyaring sudah bisa diduga sebelumnya adalah yang sejak awal sudah berseberangan dengan Ahok. Dengan kata lain, tidak semua masyarakat mempunyai persepsi yang sama dengan kelompok yang ingin melakukan demo 4-11.
  • Pihak keamanan jauh-jauh hari sudah mengantisipasi situasi demo kali ini dan tidak mau kecolongan seperti kasus 98 lalu, sehingga pernyataan yang cukup keras’pun keluar dari Kapolri maupun Panglima TNI, barangsiapa dalam demo nanti terjadi tindakan anarkis maka aparat tidak akan segan-segan menggunakan kekuatan untuk melumpuhkan jika sudah dalam keadaan terdesak.
  • Langkah tak terduga jokowi beranjangsana ke prabowo merupakan langkah tepat untuk menurunkan tensi yang mulai menghangat, dalam percaturan politik langkah jokowi tersebut seakan memotong jalur dukungan politik mantan ‘seterunya’ di Pilpres 2014 lalu kepada kelompok yang akan melakukan demo. Otomatis kehadiran Fadli Zon, Fahri Hamzah dan Amien Rais kehilangan daya sengat’nya.
  • Langkah imut Jokowi berikutnya adalah dengan mengundang pimpinan MUI, PBNU dan Muhammadiyahke Istana, dapat dikatakan NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi yang mewakili umat muslim se Indonesia yang cukup besar. Dalam khayalan penulis mungkin Jokowi mengatakan … gimana nih saya mau makan gado-gado, tapi ada yang bilang gado-gado asli harus ada timun ama tempe, yang satu lagi bilang harus ada irisan jagung, yang satu lagi bilang harus pake pare… jangan bikin bingung yang mau makan nih … hehehe … eh tapi nanti dulu, kan masih ada satu lagi koq nda diundang ya .. oh mungkin kali ini yang di undang cuma gado-gado, kalo lontong sayur next time’lah ya. Langkah ini membuktikan Jokowi bersedia bertatap muka dengan perwakilan umat muslim terbesar Nusantara untuk berdialog sekaligus menyampaikan pesan ke masyarakat bahwa jika ingin berdialog maka Jokowi akan mendengarkan tapi jika sudah main otot apalagi ingin merusak NKRI, Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika maka jangan sewot dan tersinggung kalo perilaku tersebut tidak digubris oleh beliau.
Pro kontra antara yang menganggap ucapan Ahok adalah penistaan agama dan yang tidak dapat dikatakan cukup berimbang, walau ada juga yang ragu dan belum mengambil sikap. Hal ini dapat dilihat dalam perbincangan di medsos yang cukup seru antara yang pro dan kontra. Keuntungan dengan dunia digital adalah sebagian masyarakat sudah dapat mengakses sendiri informasi yang dibutuhkan tanpa ada preferensi sebelumnya (walau ada juga sih yang sudah memihak tanpa dukungan informasi yang akurat), dan meraka dapat membandingkan semua informasi dan bukti yang ada.

Hal lain yang mungkin jadi cukup mengganggu adalah niat dari demo itu sendiri, yaitu dikatakan akan menjadi Demo Damai. Nah pertanyaan’nya adalah bagaimana yang dimaksud dengan aksi / demo damai itu ? apa saja yang dilakukan, apa yang hendak disampaikan.

Jika slogan’nya adalah demo damai maka perwujudan damai’nya juga secara menyeluruh agar mendapatkan apresiasi baik kawan maupun lawan. Mungkin penulis bisa sedikit sumbang saran terkait demo damai misalnya dengan poster yang berbunyi :
“Jangan bawa agama kami ke dalam politik”

“Ahok, Hati”lah dalam berucap“ 

“Gara” pak Ahok jadi rame dah” 

“Ahok …. Kamu JAHAD” 

“Ahok aku suka karakter’mu tapi benci caramu bertutur” 

“Sekali ini ku’Maaf’kan … next time lasung Talak 3 loh yaaa ..” 

‘Ahok kamu tau nda … Sakit’nya tuh disini…” 

Dan lain sebagai’nya bisa dari yang serius sampai yang lucu”an tapi tujuan dan maksud’nya tercapai, nah sekarang bandingkan dan bayangkan dengan poster maupun orasi yang berbanding terbalik misalnya :

“Ahok Bang**t” 

“Ahok harus dilengserkan karena musuh Islam”

“Penjarakan Ahok !!” 

"Bunuh Ahok .. ane kasih 1 Milyar"
Plus orasi-orasi yang terkesan menghasut, menghujat maupun ancaman, yang sepantasnya tidak terlalu perlu diucapkan di suasana demo, karena sedikit saja salah paham maka dalam waktu sepersekian detik bisa merubah menjadi kerusuhan massal yang menyeret banyak orang.

Dan jangan lupa, ini akan memasuki masa pilkada.. salah” dalam meyampaikan aspirasi maka pandangan sebagian masyarakat luas akan menjadi negative terhadap gerakan tersebut karena dianggap terkait dengan intrik politik dan pilkada.

Syukurlah kemarin walau sempat sedikit memanas akhirnya dapat diredakan oleh aparat dan para pemuka umat.

Nah balik lagi ke judul diatas, terus terang dengan telah ada’nya langkah antisipasi oleh pemerintah maka efek / rasa yang disodorkan kemarin seperti kehilangan sesuatu, ibarat rasa makanan jadi tidak jelas … asin tidak, manis tidak, pedas’pun tidak …. Isi makanan’pun serba tanggung, ini mau seafood, daging ayam atau mau daging sapi .. entahlah ini karena salah bahan’nya atau koki’nya yang kurang pas dalam meramu serta menyajikan masakan tersebut.

Mungkin jika nantinya ada lanjutan demo damai jilid 2, maka perlu mendengar masukan pakar komunikasi untuk melakukan demo, baik itu dalam bentuk tulisan di poster maupun dalam berorasi, jangan biarkan orang yang berorasi adalah oknum yang punya agenda pribadi ataupun agenda titipan. 

Terlepas dari itu semua, kita patut syukuri ternyata demo 4-11 kemarin dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak sampai terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat secara luas karena semua masih dapat menahan diri. 

Kita tunggu saja proses yang akan ditindak-lajuti, kalo hukum masih dianggap berdaulat maka apapun hasilnya kita semua harus bisa belajar menerima apapun keputusan finalnya. 


Bogor 6 Nov 2016












Thursday, October 13, 2016

Biaya Visa Arab Saudi Rp.6,9 juta ..



Anjloknya harga minyak mentah di pasaran dunia sepertinya mulai membuat negara-negara besar penghasil minyak mentah mulai kelimpungan. Bagaimana tidak, harga minyak mentah yang pernah berjaya diatas USD.100 / barrel, saat ini sedang berjuang untuk bertahan di harga USD.50 / barrel. Malahan di awal 2016 sempat menyentuh dikisaran USD.25 – USD.35 / barrel.

Dampak ekonominya  sudah pasti amat terasa bagi negara-negara penghasil minyak mentah, khususnya negara di timur tengah karena minyak mentah merupakan andalan utama sebagai pemasukan devisa, tidak terkecuali dengan negara Arab Saudi.

Berkurangnya pemasukan kas negara membuat negara Arab Saudi memutar otak mencari jalan untuk menambal kekurangannya. Beberapa diantaranya dengan mengurangi subsidi dibeberapa sektor  yang selama ini dinikmati oleh warganya. Bahkan dengar-dengar untuk penerimaan gaji maupun tunjangan dibeberapa lembaga pemerintah juga sudah mengalami pemotongan.

Kembali ke soal biaya visa yang telah ditetapkan awal Oktober 2016 ini, entah dari mana datangnya itu angka, dari yang tadinya berkisar Rp.500.000’an bisa melompat sampai Rp.6,9 juta itupun hanya untuk single entry loh. Mahal ? ... tenang aja, itu harga visa untuk umum, sedangkan untuk calon haji maupun ibadah umroh yang baru pertama kali masih tetap dibebaskan dari biaya visa alias gratis, kecuali untuk kunjungan kedua dan seterusnya baru dikenakan sesuai harga visa yang berlaku.

Daftar harga visa untuk masuk ke negara Arab Saudi :

Visa umum               : Rp.6,9 juta        (single entry)
Visa umroh / haji     : Free untuk pertama kali
Visa 6 bulan            : Rp.10 juta         (multiple entry)
Visa 12 bulan          : Rp.17,4 juta      (multiple entry)
Visa 24 bulan          : Rp.27,9 juta      (multiple entry)   

Harga diatas hanya baru untuk visa masuk, untuk keluar dari Arab Saudi’pun akan dikenakan biaya exit/re-entry visa dengan varian tarif Rp.699 ribu – Rp.1,7 juta.


Jika itu diberlakukan untuk kunjungan umum mungkin sah-sah saja walaupun tetap terasa kurang pas juga, tapi kalau dikenakan untuk ibadah kunjungan yang kedua dan seterusnya maka biaya segitu besar kesannya seperti mengambil keuntungan dalam kesempitan. Jelas-jelas orang mau beribadah, bukannya dibantu malah terkesan memanfaatkan aji mumpung atas kedatangan manusia dari seluruh penjuru bumi untuk melaksanakan ibadah.

Dengan naiknya biaya visa tersebut sudah barang tentu pelaksana usaha umroh di tanah air akan berhitung ulang terhadap biaya yang akan dibebankan kepada calon jemaah yang akan berangkat, terutama bagi yang akan melaksanakan ibadah umroh kedua dan seterusnya. Berdasarkan informasi dari media di timur tengah sana, tahun 2016 ini Indonesia menduduki urutan ketiga (kurang lebih 699.000) untuk urusan mengirimkan jemaah umroh setelah Mesir dan Pakistan. Tapi apa hendak dikata, namanya orang mau niat beribadah maka berapapun angka dipasang tokh tetap akan dilakoni.

Habis mau bagaimana lagi, faktanya negara Arab Saudi memang tidak memiliki sumber daya lain sebagai tambahan sumber pemasukan negara,  mau tidak mau akhirnya memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata. Entahlah kalau harga minyak mentah nanti akan kembali naik, apakah biaya visa akan kembali normal atau tidak. Tapi melihat perekonomian global saat ini, nampaknya mimpi harga minyak kembali perkasa akan sulit terlaksana dalam waktu dekat.